Pertanian dan Peternakan

Photo bersama usai pelatihan dengan UNPAD Bandung di Jl.Ahmad Yani Pematangsiantar
Panen Hasil Pertanian
Pdt.Reinjustin.Gultom.STh sebagai Ketua PENGMAS HKBP
Praktek Dilapangan daerah Tanah Jawa Simalungun







Sinur Na Pinahan, Gabe Na Niula
Cikal-bakal pertanian dan peternakan oganik sudah sejak lama kita kenal. Sejak ilmu bercocok tanam dan beternak dikenal manusia, saat itu semuanya dilakukan secara tradisonal dan menggunakan bahan-bahan alamiah. Sejalan dengan perkembangan ilmu pertanian dan peternakan serta ledakan populasi manusia, kebutuhan pangan juga meningkat. Ketika revolusi hijau di Indonesia memberikan hasil yang signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan, penggunaan pupuk kimia sintetis, penanaman varietas atau bibit unggul berproduksi tinggi, penggunaan pestisida, intensifikasi lahan dan lainnya mengalami peningkatan.
Belakangan, ditemukan berbagai permasalahan akibat kesalahan manajemen di lahan pertanian dan peternakan. Pencemaran pupuk kimia, pestisida dan lainnya akibat kelebihan pemakaian bahan-bahan tersebut, kini berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan dan kesehatan manusia akibat selalu tercemar bahan-bahan sintetis tersebut. Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam jangka waktu lama mulai disadari sehingga dicari alternatif bercocok tanam dan beternak yang dapat menghasilkan produk yang bebas dari cemaran bahan kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat.
Sejak itulah mulai dilirik kembali cara pertanian dan peternakan alamiah. Namun pertanian dan peternakan organik moderen sangat berbeda dengan pertanian dan peternakan alamiah di jaman dulu. Dalam pertanian dan peternakan organik moderen dibutuhkan teknologi bercocok tanam dan beternak, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit menggunakan agen hayati atau mikroba serta manajemen yang baik untuk kesuksesan pertanian dan peternakan organik tersebut.
Hal inilah yang ditangkap oleh lembaga Pengembangan Masyarakat (Pengmas HKBP). Melalui pelatihan pertanian dan peternakan se-Sumatera Utara pada 24 sampai 26 Juni 2008 lalu, ratusan jemaat dibekali ilmu sebagai bentuk penyadaran akan pentingnya penerapan pertanian dan peternakan berbasis organik. Acara ini dipusatkan di lokasi SMK HKBP, Jalan Ahmad Yani, Pematangsiantar bekerjasama dengan SMK HKBP, PGI Wilayah Sumut, percetakan HKBP, BU HKBP serta Universitas Padjajaran Bandung.
Dalam pelatihan yang digelar selama tiga hari tersebut, terungkap kalau kesulitan yang menimpa petani dan peternak adalah sulitnya mendapatkan pupuk, timbulnya berbagai penyakit pada tanaman dan ternak serta minimnya manajemen pengelolaan usaha mereka. Sebetulnya, persoalan yang disampaikan para petani dan peternak adalah masalah klasik yang sejak dulu belum mendapatkan solusi atau jawaban yang tepat.
Namun, dengan penerapan teknologi pertanian dan peternakan berbasis teknologi Intensifikasi Padi Aerob-Berbasis Organik (IPAT-BO) yang diperkenalkan dalam pelatihan ini, diyakini akan mampu membantu petani dan peternak mengatasi masalahnya dan nantinya akan bermuara kepada peningkatan ekonomi petani dan peternak serta penyelamatan lingkungan hidup.
Direktur Pengmas HKBP, Pendeta Reinjustin Gultom STh dalam kata sambutannya menyampaikan pentingnya penerapan pertanian dan peternakan organik untuk diterapkan sedini mungkin demi menghindari tekanan ekonomi kaum kapitalisme dan neo liberalisme serta penyelamatan lingkungan hidup dari kerusakan akibat penggunaan pupuk kimiawi dan pestisida sintetis secara tak terkendali.
Penerapan teknologi ini, kata Reinjustin, tersirat dalam Kitab Musa yakni masa penciptaan bumi dengan segala isinya. Artinya, para petani/peternak, punya kewajiban besar menjaga kelestarian lingkungan hidupnya dengan menggali potensi kearifan lokal di daerahnya masing-masing. Kearifan lokal ini adalah sebuah formula yang selama ini telah dilupakan oleh semua pihak akibat gencarnya promosi yang dilakukan negara-negara kapitalis dan neoliberalis serta faktor politis yang berperan di belakangnya. Kenyataannya, pencapaian hasil pertanian dan peternakan secara instan, tak membawa manfaat apa-apa bagi petani. Ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida sintesis menjadi belenggu yang membuat kehidupan petani/peternak semakin sulit. Kerusakan lingkungan hidup pun tak bisa dihindari. Jadilah petani/peternak menjadi sapi perah bagi para pemodal. Padahal jika menilik kepada tradisi nenek moyang kita, pola pertanian/peternakan organik yang telah mereka terapkan, mampu membawa mereka pada usaha mandiri tanpa terlalu tergantung kepada pihak lain.
Sebuah Ironi
Pernyataan yang sama disampaikan Pendeta Willem Simarmata MA, saat menyampaikan refleksi dalam pelatihan tersebut. Menurut Sekretaris Jenderal HKBP ini, dibutuhkan sebuah perenungan bagaimana orang Kristen melihat kehidupan ekonomi kerakyatan.
"Semua berasal dari rakyat dan akhirnya kembali kepada rakyat. Secara teoritis, semuanya mengarah agar rakyat sejahtera, Namun semua ini hanya semboyan belaka. Penguasa cenderung lebih berpihak kepada pengusaha. Padahal, semua pihak membutuhkan produk para petani dan peternak. Kondisi ini jelas bertentangan dengan realita yang ada. Petani dan peternak senantiasa terpinggirkan," ujarnya.
Ironis memang. Apalagi jika kita bercermin pada negara Palestina yang makmur padahal tanahnya sebagian besar terdiri dari bebatuan. Spritualitas kepada Tuhan, menjadikan negara ini tampil sebagai salah satu negara makmur. Keadaan ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang tanahnya sangat subur namun rakyatnya senantiasa hidup dalam jurang kemiskinan.
"Di Indonesia, banyak lembaga ketahanan pangan, akan tetapi tetap saja persoalan pangan sangat mahal. bahkan kebijakan oleh penguasa dengan mengimport bahan pangan menjadikan rakyat miskin. Bagaimana oknum yang bergarak di bidang pertanian, peternakan atau perikanan memikirkan nasib rakyat jika ketua himpunan nelayan dan tani adalah seorang jenderal? Apakah mereka mengerti kondisi rakyat?" kata Willem.
Kita juga, sambungnya, harus mencermati hubungan luar biasa antara lingkungan hidup dengan ekonomi. Hal ini saling terkait untuk mencegah kenaikan harga kebutuhan pokok, bahkan BBM. Penerapan pola pertanian/peternakan organik menjadi sebuah metode yang penting untuk segera dilaksanakan.
Tak ketinggalan, Pendeta Nelson Siregar, Kepala Departemen Diakonia HKBP menyampaikan betapa pentingnya menyejahterakan petani/peternak. Jika hal ini bisa dicapai dengan sendirinya lembaga gereja juga akan sejahtera. Hanya saja, proses menuju tahap sejahtera tersebut terkendala karena kurangnya kesadaran petani dan peternak untuk mengembangkan diri, terutama mengembangkan pengetahuan pengelolaan usaha mereka.
Kearifan Lokal
Sementara itu, Daniel Morgand Sitorus SE Ak, dalam makalahnya membeberkan program peningkatan beras secara nasional perlu didukung namun dengan catatan, program tersebut dijalankan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan hidup, keberadaan varietas unggul lokal, serta teknologi yang diwariskan dari kearifan lokal.
"Sebenarnya nenek moyang orang tapanuli sejak dulu telah mengenal konsep mix farming yakni perpaduan antara usaha pertanian dan peternakan. Nenek moyang kita telah beranggapan, usaha pertanian hanya bisa maju jika ditopang dengan usaha peternakan, dimana kotoran ternak kemudian dijadikan pupuk untuk pertanian. Hal ini terlihat nyata dalam sebuah ungkapan sinur na pinahan, gabe na niula (ternak berkembang, tanaman pun menghasilkan,red) Dalam perkembangan teknologi pertanian, belakangan diketahui kalau metode ini selaras dengan prinsip teknologi pertanian berbasis organik yang lebih mengutamakan pemanfaatan bahan-bahan organik dalam usaha pertanian," sebut pria yang konsen pada penerapan teknologi pertanian tanaman pangan tepat guna di Sumut ini.
Selain itu, kita juga pantas menyimak kearifan lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup yang telah diterapkan nenek moyang kita sejak dulu. Memberi nama-mana seram seperti lubuk larangan atau hutan larangan merupakan sebuah upaya dalam menjaga keletarian lingkungan hidup. Sebut saja misalnya, mengambil ikan dari lubuk larangan akan berakibat fatal karena tempat tersebut dihuni dedemit atau mahluk gaib. Larangan ini diterapkan bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebuah upaya bagaimana agar induk ikan yang biasanya bertelur di lubuk larangan, terjaga dari penjarahan umat manusia. Dengan demikian, ketersedian pangan terjamin. Demikian juga dengan sebutan hutan angker.
Belakangan, ketika manusia melupakan karifan lokal, larangan itu diabaikan segelintir oknum yang tamak. Biasanya berkedok demi pembangunan, tempat-tempat keramat tadi sedikit demi sedikit mulai dirambah dan akhirnya terjadilah kerusakan lingkungan hidup. Petani kekurangan air, bencana banjir dan longsor senantiasa mengancam dan sulitnya memprediksi cuaca. Muaranya adalah penderitaan umat manusia.
Peternakan Organik
Selain menerapkan usaha pertanian berbasis organik, para peserta pelatihan juga dibekali dengan penerapan usaha peternakan berbasis organik. Dalam sesi ini, para peserta terlihat antusias melontarkan berbagai pertanyaan seputar pengembangan usaha ternak dan berbagai penyakit yang sering menyerang ternak petani.
Drh Nometta Sembiring dari Balai Peternakan Siborong borong, Tapanuli Utara dengan lugas menjawab setiap pertanyaan peserta yang rata-rata mengeluhkan serangan penyakit pada ternak mereka. Pada sesi ini, peserta juga diberi pelatihan bagaimana memadukan pertanian dan peternakan berbasis organik untuk meningkatkan penghasilan para petani dengan mengembangkan pola organik dalam pengembang biakan ternak. Metode ini jelas menguntungkan karena petani tak perlu lagi tergantung pada pakan maupun pupuk buatan pabrik melainkan dapat memanfaatkan pola saling memberikan dan menerima antara hasil pertanian dengan hasil peternakan.
Praktek Lapangan
Tak ketinggalan, para peserta juga dibekali dengan praktek lapangan dalam pengenalan pertanian/peternakan berbasis organik. Dibimbing Bibelvrow Veny Tampubolon serta Pendeta Lantas Pardede STh, peserta diberi kesempatan mempraktekan secara langsung bagaimana menanam padi dan sayuran secara organik plus pengembangbiakan ternak dengan metode yang sama.
Peserta juga diarahkan untuk selalu memanfaatkan potensi lokal di masing-masing daerahnya. Salah satunya dengan membekali peserta dengan praktek pembuatan pestisida alami, pupuk bokasi, kompos, fermentasi pepaya dan pisang serta pemanfaatan mikro organisme secara alami tanpa tergantung pada pola usaha mahal dan teknologi tinggi. Praktek lapangan ini juga sekaligus sebagai sebuah upaya menumbuhkan kesadaran betapa selama ini para petani/peternak melupakan potensi sumber daya alam yang melimpah di lingkungannya masing-masing yang pada akhirnya menjebak petani/peternak dalam usaha ekonomi tinggi alias tak menguntungkan.
Credit Union
Upaya pendanaan usaha tani dan ternak juga tak ketinggalan diberikan kepada para peserta. Credit Union (CU) yang kini dikembangkan HKBP diharapkan mampu membantu pendanaan usaha petani dan peternak agar bisa lebih berkembang.
Menurut Drs Timbul Panjaitan, Ketua Tim Pembenahan Badan Koordinator CU HKBP, usaha ini bertujuan mengembangkan kesejahteraan anggota pada khususnya anggota CU dan kemjaun lingkungan kerja pada umumnya dalam rangka menggaang terlaksananya jemaat yang adil, makmur dan sejahtera.
Wadah CU juga berperan sebagai wadah simpan-pinjam yang tidak mencari keuntungan semata guna menciptakan sumber dana dari dan oleh para anggota dengan jasa yang pantas dan wajar. CU juga berupaya mengembangkan sikap menghemat dan penggunaan uang secara bijaksana dan terencana.
Untuk saat ini, kata Panjaitan, CU HKBP telah memiliki 100 kelompok CU yang tersebar di seluruh daerah Sumut. ke depan CU ini berupaya terus membenahi diri agar mampu menjadi lembaga yang menjadi sumber dana murah dan segar bagi anggotanya tanpa membatasi diri pada anggota dari jemaat HKBP belaka. (localnews)

Tidak ada komentar:

Gallery

Gallery